Leadership atau Followership

Isu yang saya angkat kali ini adalah tentang kepemimpinan dan kepengikutan.

Saya awali dengan kepemimpinan atau yang lebih dikenal dengan kata ‘leadership’ bagi yang suka sok Inggris.

Tentu saja kita tahu banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi seorang pemimpin. Di sekolah, di tempat kerja atau bahkan berlomba-lomba menjadi pemimpin negara. Kepemimpinan itu memang harus ada dalam setiap organisasi, anda tentu tahu mengapa dan mungkin karena itulah anda terobsesi untuk menjadi seorang pemimpin. Tolong perhatikan kata mungkin di penghujung kalimat sebelum ini.

Sebagai seorang pemimpin, anda akan dihormati, mendapat kesempatan yang lebih besar dll. Tetapi ada satu hal yang bisa membuat pemimpin jatuh. Hal itu adalah kekosongan pengikut atau dalam kata lain bawahan.

Siapa yang akan anda pimpin jika tidak ada pengikut atau bawahan. Apa yang akan anda pimpin tanpa pengikut? Tanpa kejelasan identitas pengikut, ini akan menjadi zona abu-abu. Bagaimanapun, ini ada pengecualiannya. Toh nyatanya di dunia ini anda juga harus memimpin satu orang tak lain dan tak bukan diri anda sendiri.

Seorang pemimpin tidak dapat bekerja maksimal tanpa adanya pengikut atau bawahan. Tugas yang menumpuk dan tanggung jawab yang besar dari seorang pemimpin pastilah akan dibagikan kepada anak buahnya. Kalau tidak ada anak buah, bersiap-siaplah berusaha mati-matian untuk menyelesaikan tugas anda.

Saya pernah membaca sebuah tulisan menarik dari salah seorang Marketing Guru ternama Asia, Bapak Hermawan Kartajaya. Beliau menggarisbawahi apa yng disebut dengan ‘followership’. Artikel itu ditulis di majalah penerbangan Garuda bulan Maret 2004.

Kala itu, Bpk. Hermawan dilayani oleh seorang pramugari yang sudah lama bekerja di Garuda (23 tahun, kalau pramugari itu masih bekerja sampai sekarang berarti sudah 28 tahun). Pramugari itu berkata bahwa apa pun yang terjadi, dia akan mati-matian membela Garuda, flag carrier Indonesia yang sempat terpuruk itu. Bayangkan, dari zaman seragam Garuda masih berwarna oranye hingga sekarang, kesetiaan dan dedikasi pramugari itu terhadap BUMN penerbangan itu tetap bertahan. Itulah yang dimaksud dengan ‘followership’.

Jika kita ingin membuat sebuah brand dari kelompok yang kita pimpin, tentu brand itu akan menjadi lebih kuat jika adanya good followership di samping good leadership. Mengapa? Kita lihat kisah pramugari di atas. Pramugari itu telah melewati zaman emas hingga terpuruknya perusahaan tempat dia bekerja dan dia masih berkomitmen terhadap karirnya. Apakah kita bisa meniru apa yang dia sudah lakukan? Kita mungkin berkata ‘ya’ tapi dalam jangka panjang, tidakkah anda akan tergoda dengan kenaikan pangkat?

Ketika seseorang menjadi pemimpin, banyak yang menyalahgunakan jabatannya untuk menyerang mantan pesaingnya yang masih di jabatan terdahulu orang tersebut. Jika seorang pemimpin sebuah organisasi tapi pengikut organisasi tersebut membelot, dapatkah organisasi itu berjalan secara efektif?

Dari tulisan saya ini, saya harap anda dapat menyimpulkan sesuatu. Dan jika anda seorang pemimpin yang berjiwa besar, tidakkah seharusnya anda menghargai pengikut anda yang benar-benar setia ingin membantu anda daripada terus mengumpat mereka atau menertawakan mereka?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s