FMOB – Singapore International Storytelling Festival

Tulisan ini berasal dari blog lama saya. Saya putuskan untuk saya masukkan di sini karena ini merupakan satu dari sedikit postingan berkualitas saya di blog lama saya. Postingan ini tertanggal 30 Agustus 2008.
——

Tadi malam, saya mengunjungi Arts House Chamber di Singapura karena saya mendapatkan dua buah tiket masuk gratis dari Reader’s Digest. Awalnya, setelah keluar dari stasiun MRT Raffles Place, saya sempat memutar-mutar berkeliling kawasan CBD Singapura tersebut karena saya tidak tahu lokasi pastinya. Namun, saya berhenti sejenak di depan salah satu pintu mauk stasiun MRT Raffles Place untuk melihat peta. Di peta tersebut memang tidak dinyatakan di mana Arts House itu berada tapi berdasarkan surat yang saya terima, insting saya menyatakan saya harus menyeberang Singapore River. Dan insting saya tepat. Surat yang saya terima itu mengatakan bahwa lokasi Arts House berada di Old Parliament House yang berarti berada di seberang Singapore River. Saya pun teringat kata-kata ibu saya tahun lalu, buat apa saya sekolah di sana kalau tidak tahu ini di mana itu di mana, apa yang baru terjadi, ada tempat makan baru dan sebagainya.Ya mumpung sedang libur sekolah seminggu, tidak ada salahnya kalau saya pergi jalan-jalan sekali-kali (maklum saya orangnya agak pelit).

Ketika saya tiba, ada seorang pria yang didampinggi tiga orang wartawan memasuki Arts House tersebut. Awalnya saya kira orang itu adalah salah satu pencerita di acara tersebut. Karena saya membawa tas, saya pun berdiri sebentar di luar gedung mengorek-ngorek mencari tiket yang saya taruh (maaf, saya orangnya kalau terburu-buru apapun jadi berantakan). Beruntunglah saya bahwa orang yang berdiri di depan pintu masuk aula di mana akan dilaksanakannya acara tersebut masih setia menunggu peserta acara dan dengan senyum menunjukkan di mana dan bagaimana cara memasuki aula yang notabenenya merupakan tempat parlemen Singapura mengadakan rapat dulu.

Photobucket

Saya datang terlambat 30 menit dari jadwal aslinya. Untung saja acaranya belum dimulai, pikir batin saya. Acara pun dimulai dengan pembukaan oleh Bapak Jim Plouffe, editor atau manajer atau apalah dari majalah Reader’s Digest, tak disangka orang aslinya lebih gemuk daripada foto di majalah. Acara lalu dilanjutkan dengan cerita-cerita dari para pencerita berpengalaman seperti Sherry Norfolk dan lain-lain (saya lupa nama pencerita lainnya). Setelah empat pencerita menyelesaikan ceritanya, pembawa acara lalu mempersilakan para hadirin menuju tempat refreshment disajikan di luar aula (lihat gambar diatas). Dia (pembawa acara) juga memberikan kami 20 menit untuk beristirahat.

20 menit sudah berlalu, hadirin kemudian diarak kembali menuju aula untuk mendengarkan cerita-cerita dari Dolly (Malaysia), Bobby Norfolk (AS, suami dari Sherry) dan seorang pria berkebangsaan Amerika yang menceritakan tentang peperangan (lupa namanya). Sebelum acara berakhir, tamu kehormatan anggota parlemen untuk Marine Parade Bapak Mazagos Ghazali naik ke atas panggung untuk menerima hadiah karena sudah mau meluangkan waktunya untuk menghadiri acara tersebut, dia juga ternyata orang yang saya temui di pintu masuk. Setelah Bapak Mazagos, dua orang redaktur Reader’s Digest memberikan sambutan dan penghargaan kepada para hadirin yang bersedia untuk meluangkan waktunya menghadiri SISF. Akhir cerita, peserta pun kemudian dibubarkan untuk kembalike rumahnya masing-masing

CATATAN SAYA:
Bagi saya, ini adalah acara yang cukup baik diadakan mengingat banyak orang Singapura memiliki Bahasa Inggris (maaf) yang sangat buruk. Sayangnya, animo masyarakat masih sangat rendah mengingat masih banyaknya kursi kosng yang ada. Acara ini sungguh sangat inspiratif bagi seorang pelajar seperti saya untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris saya yang bisa saya katakan masih belum memenuhi standar British English. Harapan saya adalah semoga masyarakat Singapura lebih menerima acara seperti ini dibandingkan dengan acara-acara tidak jelas yang banyak diadakan di Singapura.

UCAPAN TERIMA KASIH:
Saya merasa bersyukur bisa menghadiri acara seperti SISF dan ingin menucapkan banyak terima kasih kepada majalah Reader’s Digest, National Library Board, Ministry of Education, dan kampanye “Speak Good English” oleh pemerintah Singapura.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s