Prejudice & Pride

Mungkin karena isu ini kontroversial maka saya tulis dalam Bahasa Indonesia untuk memberikan perspektif lain pada komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Tidak ada niat untuk mendiskriminasi atau sok mengajari.

Prejudice & Pride adalah pameran sementara Museum of Brisbane hingga 17 Oktober 2010 mengenai komunitas LGBT di kota Brisbane, Australia. Berhubung lokasi asli Museum of Brisbane (MoB) di City Hall sedang direnovasi, jadi MoB dipindahkan ke balai kota sementara yang sebetulnya hanya di seberang lapangan balai kota yang direnovasi.

Komunitas LGBT di Brisbane dan di Queensland pada umumnya pernah mengalami masa-masa suram. Mereka merupakan salah satu komunitas yang termarjinalisasi selain penduduk Aborigin pada masa tersebut. Queensland sendiri sering dikatakan sebagai negara bagian Australia yang paling terbelakang. Terbelakang karena Queensland adalah negara bagian terakhir yang berekonsiliasi dengan kaum Aborigin dan penduduk Torres Strait. Terakhir pula yang memberikan kesetaraan hak kepada kaum LGBT.

Photograph4545
Darryl Nisbet, salah satu atlet yang ikut bertanding di Gay Games Vancouver 1990, mengungkapkan betapa bangga dan gembira rasanya setelah memenangkan medali serta menghilangnya sekat-sekat yang memisahkan orang jelata dengan LGBT.

Kalau kita menekan ‘Play’ di layar, maka video-video cerita kaum LGBT akan diputar. Anda dapat mendengarkannya dengan headset.

Photograph4549
Baju-baju yang mungkin digunakan untuk menggalang solidaritas untuk kaum LGBT.

Tujuan dari pameran ini pastinya untuk meningkatkan kesadaran kita akan kaum LGBT yang baik secara langsung maupun tidak masih mengalami diskriminasi di berbagai bidang. Toh sebetulnya, mereka begitu bukan karena pilihan. Mereka membutuhkan pertolongan, bukan dikasari.

Photograph4552
Bisa jadi api pemicu kemarahan kaum ekstremis jikalau pameran serupa diadakan di Indonesia, pajangan kondom.

Pameran ini memberikan gambaran perjuangan komunitas LGBT melawan diskriminasi. Mereka sendiri yang berjuang, bukan menunggu pemerintah federal atau negara bagian untuk berekonsiliasi. Mereka benar, itulah yang seharusnya dilakukan di negara demokrasi, kekuasaan di tangan rakyat. Bukan menunggu uluran tangan pemerintah.

Photograph4555
“Kaum lesbian ada di mana-mana”

Bahkan papan nama jalan pun diplesetkan oleh mereka, dari Queen Street (Jalan Ratu) menjadi Queer Street (Jalan Homoseksual).
Photograph4557

Apa pun pendapat anda mengenai isu ini, semoga saja pengetahuan anda bertambah dengan adanya tulisan ini. Tidak ada niat menggurui, cuma marilah kita belajar dari negara yang demokrasinya lebih dewasa dari kita menangani masalah ini. Tidak harus diikuti tapi dipetik apa yang penting dari perjuangan mereka yang dipulaukan.

Photograph4560
Ini juga sebetulnya bisa memicu masalah kalau dipamerkan di Indonesia.

Sekian dari saya. Sampai bertemu di tulisan saya lainnya dalam Bahasa Indonesia (masih belajar untuk menulis bagus soalnya).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s