Benny & Mice – Jakarta Luar Dalem, Jakarta Atas Bawah

Kebanyakan dari kita pasti kenal dengan kartun Benny & Mice. Kartun karya Benny Rachmadi (Benny) dan Muhammad Misrad (Mice) ini hadir awalnya di koran Kompas pada tahun 2003. Sebelumnya, mereka juga pernah mengeluarkan komik 6 seri berjudul “Lagak Jakarta”. Benny & Mice adalah sebuah kartun yang menceritakan ironi kehidupan di Jakarta bagi kalangan menengah ke bawah. Ada unsur sindiran yang tertanam di dalamnya, sindiran bagi kita semua. Kali ini, saya akan membahas kedua buku karya mereka lainnya yakni “Jakarta Luar Dalem” dan “Jakarta Atas Bawah”. Kedua buku ini berisikan kompilasi hasil karya mereka selama tahun 2003 hingga tahun 2008 yang dicetak di harian Kompas.

Jakarta Luar Dalem

Photograph1625
Halaman depan buku “Jakarta Luar Dalem”

Dari halaman depan buku ini, kita bisa mengatakan bahwa Benny dan Mice adalah dua orang petugas penjaga kamar kecil. Uniknya, mereka bekerja menggunakan kemeja dan dasi. Di atas meja kerja mereka juga terdapat mesin kasir dan papan pemberitahuan tarif jasa kamar kecil,
Toilet 1000
Mandi 2000

Uniknya lagi, pengguna kamar kecil tersebut juga dapat membayar tarif jasa penggunaan kamar kecil tersebut dengan MasterCard atau pun Visa. Mice, dalam gambar tersebut, mengatakan kepada salah seorang pengguna kamar kecil tersebut untuk menyiram lubang WC yang baru saja digunakan oleh seorang waria. Di selop kanan waria tersebut juga terdapat bercak kotoran berwarna cokelat, gunakan imajinasi anda untuk menerka apa bercak cokelat itu sebenarnya. Kalau menurut saya adalah (maaf) tahi.

Terlepas dari kesan elite kasir kamar kecil tersebut, kita dapat melihat adanya kekontrasan pada gambar tersebut. Pintu kamar kecil tersebut rusak, adanya kesan bau pesing, dan malah ada yang menggunakan kamar kecil tersebut untuk merokok. Lantai pada gambar tersebut juga terkesan licin, ini karena sandal waria itu bisa terlepas dan adanya genangan air di dekat pintu.

Mungkin kedua tokoh pembuat komik ini ingin menunjukkan bahwa sekalipun kehidupan di Jakarta itu begitu menjanjikan, hingar-bingar, toh nyatanya kesan kumuh atau kemiskinan tidak dapat dilepaskan dari ibu kota negara kita ini. Ini hanyalah anggapan saya jadi tidak semestinya penulis setuju dengan apa yang saya tulis di atas.

Photograph1626

Begitu anda membuka halaman berikutnya, gambar di ataslah yang akan anda lihat. Benny dan Mice berpose sebagai patung yang melambangkan selamat datang di Jakarta. Saya kurang tahu nama dari patung tersebut karena saya bukan orang Jakarta.

Karena alasan hak cipta, maka saya tidak akan menunjukkan kartun-kartun apa yang dimuat di dalam buku ini.

Photograph1627

Di salah satu penghujung buku ini, Benny dan Mice hadir untuk memberitahu pembaca bahwa masih ada buku “Jakarta Atas Bawah”. Saya belum dapat memahami mengapa wanita di sisi kanan halaman tersebut begitu histeris terhadap kedua tokoh (atau mungkin buku “Jakarta Luar Dalem” ini).

Photograph1628

Halaman terakhir dari buku ini memuat beberapa komentar tentang kartun Benny dan Mice yang hadir di Kompas. Juga ada potongan hasil karya mereka yang dimuat di harian Kompas pada tahun 2003.

Jakarta Atas Bawah

Photograph1629

Halaman muka dari buku “Jakarta Atas Bawah” masih dengan Benny dan Mice menggunakan pakaian yang sama seperti di buku “Jakarta Luar Dalem”. Hanya saja, lokasi mereka berpindah dari kamar kecil menjadi di trotoar dengan jalan di dekat mereka yang berlubang dan becek tergenang air. Menurut saya, pengarang ingin menunjukkan realita jalan raya ibu kota yang tidak semuanya mulus seperti di kawasan Thamrin – Sudirman. Benny dan Mice sedang melihat bayangan diri mereka pada genangan air dan mereka terkejut melihat bayangan mereka menggunakan pakaian yang berbeda dan tersenyum.

Sementara di belakang mereka berdiri sebuah warung kecil dan penjaga warung tersebut sedang terlelap hingga mengiler. Di bagian kiri atas, ada seorang supir bajaj yang kelihatan cengengesan dan terkesan hendak meciprati Benny dan Mice dengan air yang sedang mereka pandangi. Dugaan saya, supir bajaj itu adalah Wempi, tokoh yang kesal karena tidak dimasukkan dalam karya Benny dan Mice lainnya “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta” dan “Benny & Mice Lost in Bali”.

Photograph1630

Kalau di “Jakarta Luar Dalem” Benny dan Mice berpose sebagai patung selamat datang ke Jakarta, dalam edisi kali ini, mereka berpose sebagai Abang dan None Jakarta lengkap dengan blangkon dan kerudung.

Dengan alasan yang sama pula, saya tidak akan menunjukkan hasil karya mereka di posting saya kali ini.

Photograph1631

Halaman di atas mempromosikan situs web nalar.co.id untuk mendiskusikan masalah seputar kartun-kartun Benny dan Mice. Bagi sebagian mungkin kenal dengan nenek tersebut dan jika anda tidak tahu siapa dapat merujuk pada buku “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”.

Photograph1632

Halaman ini mempromosikan hasil karya Benny dan mIce lainnya yaitu “Jakarta Luar Dalem” dan “Talk About Hape”. Sejauh ini, saya sudah memiliki hasil karya mereka yang berjudul (di urut berdasarkan tanggal pembelian): Lost in Bali, Jakarta Luar Dalem, Jakarta Atas Bawah, dan 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta. Saat ini, saya sedang mengincar “Lagak Jakarta” 1 dan 2 serta “Talk About Hape”. Kabarnya, Lagak Jakarta 3,4, 5, dan 6 tidak beredar di pasaran untuk sementara waktu.

Photograph1633

Halaman belakang dari buku ini berisi resensi tentang kartun Benny dan Mice di berbagai media nasional seperti Kompas, Rolling Stone, dan Reader’s Digest Indonesia.

Sekian resensi buku saya kali ini. Untuk pengetahuan anda, harga masing-masing buku yang saya resensikan adalah Rp 30.000,- dan untuk dua buku lainnya (Lost in Bali dan 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta) dijual Rp 30.000,- dan Rp 42.500,- masing-masing di toko buku-toko buku terkemuka.

Advertisements

The Kite Runner

Baru-baru ini, saya selesai membaca sebuah novel karangan seorang Amerika keturunan Afghanistan, Khaled Hosseini. Novel tersebut berjudul “The Kite Runner”.

Kite Runer
Kite Runner dari samping

Kite Runner menceritakan tentang seorang anak bernama Amir dan Afghanistan. Novel ini menceritakan seorang ayah yang menyimpan rahasia pada anaknya dan baru diketahui setelah sang ayah meninggal, marjinalisme kaum Hazara, datangnya Uni Sovyet ke Afghanistan, pengorbanan, hingga migrasi menuju Amerika.

Novel ini memang sudah lama keluar namun pada saat itu, saya belum begitu tertarik untuk membaca novel. Harga novel ini adalah S$18.90 tetapi saya tidak perlu membayar sepeserpun karena saya meminjamnya dari perpustakaan sekolah. Buku ini dapat saya pinjam selama dua minggu dan peminjamannya dapat diperbarui untuk jangka waktu satu minggu.

Kite Runner
Cover page Kite Runner

Kite Runner juga sudah dijadikan layar perak dan tahun lalu saya mendapat sepasang tiket gratis untuk menontonnya tapi lagi-lagi saya tidak hadir karena batasan umur.

Saya merekomendasikan buku ini jika anda tertarik tentang situasi Afghanistan pada dekade 1960-an hingga 1980-an.